Sabarnya Orang Dalam Ketaatan

Sejatinya taat memiliki makna yaitu patuh dan tunduk terhadap segala perintah dan aturan serta menjauhi segala larangan yang berlaku. Sebagai seorang manusia, kita diwajibkan untuk selalu berada dalam ketaatan dengan sabar. Sebagai seorang hamba Allah, kita diwajibkan untuk selalu taat kepada-Nya yang telah menciptakan kita dan juga taat kepada Rasul-Nya. Sebagai seorang anak, kita diwajibkan untuk taat kepada kedua orang tua yang telah melahirkan kita. Dan sebagai seorang perempuan yang sudah menikah, atas perintah Allah harus taat kepada suaminya.

Sebagai hamba Allah, kita harus patuh dalam melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Perintah Allah yang wajib dilaksanakan diantaranya melaksanakan shalat, berpuasa, membayar zakat, dan masih banyak lagi hal-hal lain yang Allah perintahkan untuk kita ikuti. Adapun larangan Allah yang wajib kita tinggalkan seperti meminum khamar, berzina, melakukan perbuatan judi dan hal-hal yang berbau maksiat lainnya. Hal-hal tersebut merupakan bentuk ketaatan terhadap Allah yang bisa mengantarkan kita kepada tingkat keimanan dan ketaqwaan terhadap-Nya. Didalam Al-Qur’an dikatakan bahwa:

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari-Nya, padahal kamu mendengar (perinta-perintah-Nya).” (QS. Al-Anfal:20).

Kadang kala kita mudah mengatakan bahwa sudah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Namun ada kalanya kita juga ingin menyerah dengan semua hal tersebut sehingga merasakan capek, lelah dan lain sebagainya. Disinilah kita memerlukan rasa sabar untuk melakukan ketaatan-ketaatan kepada Allah. Sabar menjalankan segala perintah-Nya, sabar meninggalkan hal-hal yang bermaksiat terhadap Allah. Dengan menjunjung tinggi kesabaran yang kuat, maka kita tidak mudah goyah dan tidak mudah menyerah terhadap ketaatan-ketaatan yang seharusnya kita lakukan.

Taat kepada Allah berarti kita juga harus taat kepada Rasul-Nya. Taat kepada Rasul mempunyai makna yakni melaksanakan ajaran-ajaran Sunnah yang sesuai dengan hadist Nabi Muhammad Sallaulahu ‘Alaihi Wassalam. Melalui hadist-hadist Nabi Muhammad inilah kita memahami penjelasan lebih lanjut dari peraturan-paraturan Allah yang telah tercantum dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, kita sebagai umat muslimin senantiasa mengamalkan ajaran-ajaran Nabi Muhammad dalam kehidupan dengan mengharap ridho Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Barang siapa menaati Rasul (Muhammad) maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling (dari ketaatan itu) maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka.” (QS. An-Nisa’:80).

Sebagai warga yang tinggal di suatu wilayah, kita juga perlu menaati para pemimpin wilayah tersebut. Taat kepada pemimpin berarti mematuhi aturan-aturan yang ada selama masih dalam jalur yang diridhoi oleh Allah dan tidak menyimpang dari perintah Allah serta ajaran-ajaran Sunnah Nabi Muhammad. Seperti yang dikatakan dalam Al-Qur’an bahwa:

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’:59).

Sebagai seorang anak, kita juga diajarkan untuk taat kepada kedua orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan kita. Kita wajib mematuhi perintah mereka selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan perintah Allah seperti memakai jilbab, shalat serta hal-hal yang tidak berbau maksiat terhadap Allah. Dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra’:23).

Allah memerintahkan kepada kita agar selalu berbakti kepada kedua orang tua. Berbuat baik kepada kedua orang tua, mendoakan, menyayangi, mengasihi dan melakukan apa yang mereka sukai adalah kewajiban kita sebagai seorang anak kepada mereka. Kita pernah mendengar istilah bahwa ridho orang tua adalah ridho Allah karena betapa mulianya kedua orang tua kita disisi Allah. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yaitu:

“Ridho Allah itu di dalam ridhonya orang tua, dan ketidak ridhoan Allah itu di dalam ketidak ridhoan orang tua.” (HR. Al-Hakim dan At-Tirmidzi).

Ada kalanya kita berbeda pendapat dengan kedua orang tua. Ada kalanya orang tua menasehati kita dengan sedikit amarah. Ada kalanya kita merasa tertekan dengan perintah-perintah mereka yang tidak sesuai keinginan. Namun ketahuilah bahwa dibalik semua itu mereka lakukan semata-mata hanya untuk kebaikan kita. Ingatlah bahwa tanpa kedua orang tua, kita tidak mungkin ada di dunia ini. Oleh karena itu, perbanyaklah rasa sabar ketika menghadapi mereka yang kadang-kadang tidak sesuai keinginan. Apabila ada perbedaan pendapat maka komunikasikan dengan mereka secara baik-baik dengan penuh kesabaran dalam diri.

Sebagai seorang wanita yang telah menikah, kita juga diwajibkan untuk taat dan patuh kepada suami. Kita harus menaati perintah suami selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan perintah Allah dan ajaran Nabi Muhammad. Laki-laki adalah pemimpin untuk para wanita sehingga mereka diberi satu tingkatan kelebihan dibandingkan dengan wanita. Hal ini telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an bahwa:

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang salehah, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha Tinggi, Maha Besar.” (QS. An-Nisa’:34).

Wanita yang taat kepada suami merupakan ciri wanita salehah dan penghuni surga. Ketaatan kepada suami dapat mengantarkan para wanita menuju surga dengan jalan yang cepat. Selain itu, taat kepada suami dan hormat kepadanya juga dapat meninggikan derajat pahala seorang istri. Namun, ketaatan tersebut tidak mudah dijalani begitu saja. Karena ada saatnya antara suami dan istri terjadi perbedaan-perbedaan tertentu dan sulit untuk menyatukan perbedaan tersebut. Oleh karena itu, untuk memahami antara satu sama lain maka diperlukan kesabaran yang kuat dalam diri. Sabar untuk taat dan patuh terhadap perintah suami adalah hal paling mulia yang dilakukan oleh seorang istri agar suami ridho terhadapnya. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Wanita mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya ridho padanya, maka ia akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi No. 1161 dan Ibnu Majah No. 1854).

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai